Pengasuh Pondok Pesantren Asshodiqiyah Semarang, Dr. (H.C.) KH Shodiq Hamzah, membagikan sejumlah pesan kepada jemaah ketika berada di Madinah pada musim haji 1447 H/2026 M. Dari pengalaman panjangnya mendampingi perjalanan ibadah haji, Kiai Shodiq menekankan bahwa haji tidak semata-mata merupakan perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan yang menguji kesabaran, kesiapan, dan keikhlasan seorang Muslim.
Pengalaman Panjang Mendampingi Umat
Dalam perbincangan bersama Media Center Haji pada 4 Mei 2026, Kiai Shodiq mengungkapkan bahwa perjalanan tersebut merupakan haji ke-47 baginya. Pengalaman panjang itu membuatnya menyaksikan berbagai perubahan serta dinamika penyelenggaraan ibadah haji dari masa ke masa.
Menurutnya, setiap perjalanan haji memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu, jemaah perlu mempersiapkan diri bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan spiritual. Kesabaran menjadi bagian penting karena perjalanan haji mempertemukan jutaan umat Islam dari berbagai negara dalam rangkaian ibadah yang membutuhkan kesiapan dan kedisiplinan.
Menjaga Kebugaran dan Kesiapan Diri
Kiai Shodiq juga mengingatkan jemaah agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan demi mengejar amalan tertentu. Dalam pelaksanaan salat di Masjid Nabawi, misalnya, jemaah perlu memahami kemampuan tubuh masing-masing dan tidak memaksakan diri ketika kondisi kesehatan sedang menurun.
Pada kesempatan lain selama musim haji 2026, Kiai Shodiq turut mengapresiasi peningkatan pelayanan kepada jemaah Indonesia. Ia menilai sejumlah proses perjalanan dari embarkasi hingga penginapan semakin membantu mengurangi kelelahan jemaah, termasuk pengelolaan barang bawaan dan percepatan proses kedatangan.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan menjalankan ibadah haji tidak hanya dinilai dari seberapa banyak aktivitas yang dapat dilakukan. Menjaga niat, kesehatan, kesabaran, serta memahami setiap ibadah dengan benar juga menjadi bagian penting dari perjalanan menuju haji yang bermakna.
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Asshodiqiyah, pengalaman dan pesan Kiai Shodiq menjadi bagian dari khazanah keilmuan yang dapat terus dipelajari. Ilmu tidak hanya disampaikan melalui ruang pengajian, tetapi juga melalui pengalaman panjang dalam mendampingi umat menjalankan ibadah.