Persoalan lingkungan menjadi salah satu tantangan nyata bagi masyarakat di kawasan perkotaan. Pondok Pesantren Asshodiqiyah yang berada di kawasan Kaligawe, Kota Semarang, juga menghadapi persoalan tersebut, khususnya berkaitan dengan limpasan air dan risiko genangan.
Upaya mencari solusi kemudian mempertemukan Pondok Pesantren Asshodiqiyah dengan Universitas Diponegoro melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Peletakan Batu Pertama Kolam Retensi
Pada 20 November 2024, Universitas Diponegoro melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat memulai pembangunan kolam retensi di lingkungan Pondok Pesantren Asshodiqiyah. Kegiatan tersebut ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama yang dihadiri pimpinan UNDIP, tim pengabdian masyarakat, serta Pengasuh Pondok Pesantren Asshodiqiyah KH Shodiq Hamzah Usman.
Kolam retensi dirancang untuk membantu pengelolaan limpahan air hujan sekaligus menjadi bagian dari penanganan persoalan air di lingkungan pesantren. UNDIP menyebut kolam tersebut memiliki luas sekitar 120 meter persegi dengan kedalaman 1,5 meter.
Pendekatan Lingkungan Menyeluruh
Program pengabdian dirancang secara bertahap dalam jangka beberapa tahun. Setelah pembangunan kolam retensi, agenda berikutnya mencakup pengembangan sistem pemanenan air hujan, pengolahan air limbah dan jaringan drainase, hingga pembangunan kolam berikutnya. Dengan demikian, persoalan lingkungan ditangani melalui pendekatan yang lebih menyeluruh.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pesantren juga dapat menjadi ruang penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberi dampak langsung kepada masyarakat. Ilmu yang dikembangkan di perguruan tinggi bertemu dengan kebutuhan nyata di lingkungan pesantren.
Bagi Asshodiqiyah, pembangunan sarana tersebut tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur. Lingkungan yang lebih tertata dan memiliki pengelolaan air yang lebih baik turut mendukung kenyamanan aktivitas pendidikan, pengajian, dan kehidupan para santri.
Dari lingkungan pesantren di Kaligawe, kolaborasi Asshodiqiyah dan UNDIP memperlihatkan bahwa pendidikan, pengabdian, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan bersama secara harmonis.