Tradisi pesantren tidak dapat dipisahkan dari kitab, pengajian, dan kegiatan menulis. Dari generasi ke generasi, para ulama meninggalkan pengetahuan bukan hanya melalui pengajaran secara lisan, tetapi juga melalui karya yang dapat terus dibaca oleh generasi setelahnya.
Tradisi tersebut juga hadir di Pondok Pesantren Asshodiqiyah Semarang melalui karya Pengasuh Pesantren, KH Shodiq Hamzah Usman.
Karya Monumental 30 Jilid Beraksara Pegon
Pada masa pandemi Covid-19, Kiai Shodiq memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan dua karya. Salah satunya adalah Tafsir Al-Bayan Fi Ma'rifati Ma'ani Al-Qur'an, sebuah karya tafsir Al-Qur'an yang kemudian diterbitkan oleh Pondok Pesantren Asshodiqiyah bersama penerbit Asnalitera Yogyakarta.
Tafsir Al-Bayan disusun sebanyak 30 jilid, dengan setiap jilid membahas satu juz Al-Qur'an. Penyajiannya menggunakan pendekatan yang dekat dengan tradisi pembelajaran pesantren, termasuk penggunaan aksara pegon serta pemaknaan dalam bahasa Jawa.
Karya tersebut tidak hanya membantu pembaca memahami makna ayat secara umum. Penjelasan kata demi kata serta unsur tata bahasa Arab juga menjadi bagian yang mendapat perhatian, sehingga tafsir dapat digunakan sebagai salah satu bahan untuk membantu santri mendalami kandungan Al-Qur'an sekaligus memahami struktur bahasanya.
Merawat Tradisi Keilmuan Pesantren
Pada periode yang sama, Kiai Shodiq juga menyusun sebuah kitab berisi doa yang berkaitan dengan situasi wabah. Karya tersebut lahir ketika masyarakat menghadapi masa pandemi dan membutuhkan pegangan spiritual di tengah ketidakpastian.
Lahirnya karya-karya tersebut memperlihatkan salah satu sisi penting kehidupan pesantren: ilmu terus dipelajari, diajarkan, didiskusikan, dan dituliskan.
Bagi santri, hadirnya karya dari lingkungan pesantren sendiri juga dapat menjadi teladan bahwa proses belajar tidak berhenti pada kemampuan membaca kitab. Santri dapat melanjutkannya dengan meneliti, menulis, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Tafsir Al-Bayan kemudian menjadi salah satu jejak intelektual yang lahir dari lingkungan Pondok Pesantren Asshodiqiyah. Sebuah karya yang sekaligus mengingatkan bahwa tradisi pesantren selalu memiliki hubungan erat dengan membaca, memahami, mengajarkan, dan menuliskan ilmu.